Asia Pasifik mencatat pertumbuhan paling signifikan dalam sektor aplikasi belanja global, menurut laporan Shopping App Insights 2025 dari Adjust. Di tengah penurunan instalasi aplikasi e-commerce sebesar 14% secara global pada paruh pertama 2025, kawasan APAC justru tumbuh 13% dengan kenaikan sesi sebesar 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan ini ditopang oleh pergeseran strategi merek dari pendekatan akuisisi massal menuju penargetan presisi yang didukung teknologi kecerdasan buatan (AI). Menurut temuan riset, strategi ini memungkinkan merek menargetkan pengguna bernilai tinggi dan mendorong loyalitas jangka panjang.
“Aplikasi belanja paling sukses saat ini adalah yang mampu menggabungkan penargetan berbasis AI dengan pengalaman yang konsisten dan bermakna di setiap titik sentuh pengguna,” ujar April Tayson, Wakil Presiden Regional INSEA, Adjust.
Laporan menunjukkan bahwa selain APAC, kawasan Amerika Latin (LATAM) juga mencatat pertumbuhan luar biasa dengan peningkatan instalasi +18% dan sesi +27% pada H1 2025. Sementara itu, Eropa dan Amerika Utara mengalami perlambatan akibat kejenuhan pasar dan tekanan ekonomi.
Thailand menjadi negara dengan lonjakan paling tajam (+180% instalasi, +53% sesi), diikuti oleh Malaysia (+12% dan +69%), dan Brasil (+48% dan +38%). Indonesia mencatat +7,54 menit rata-rata durasi sesi, dan peningkatan retensi Hari ke-1 sebesar 12,2%.
Marketplace Unggul dari Segi Keterlibatan dan Retensi
Aplikasi marketplace mendorong 60% sesi global meskipun hanya menyumbang 20% dari total instalasi, mencatat durasi sesi rata-rata tertinggi yaitu 10,69 menit. Sementara itu, aplikasi shopping mencatat 76% dari total instalasi namun hanya 36% dari sesi pengguna.
Tingkat retensi Hari ke-1 marketplace juga menonjol di angka 24,8%, jauh di atas aplikasi shopping (12,8%). Marketplace juga memimpin dalam metrik sesi Hari ke-0 dengan 1,86 sesi per pengguna.
Teknologi AI tidak hanya mempercepat produksi konten dan segmentasi audiens, tetapi juga memungkinkan personalisasi real-time berdasarkan perilaku pengguna, seperti histori pencarian, lokasi, dan pola interaksi. AI juga membantu merek memprediksi permintaan, mengalokasikan anggaran dengan lebih presisi, serta meningkatkan efektivitas bidding saat periode kompetitif seperti Black Friday dan Singles’ Day.
Adjust juga memperkenalkan Growth Copilot, asisten AI yang menyederhanakan analisis performa kampanye secara real-time dan membantu tim pemasaran membuat keputusan cepat berbasis data.
Dinamika Biaya dan Strategi Akuisisi Pengguna
Biaya rata-rata per instalasi (CPI) global untuk aplikasi belanja tercatat di $1,01, sedangkan marketplace hanya $0,89. Namun Indonesia menunjukkan anomali dengan rasio paid-to-organic sebesar 1,56 (tertinggi di dunia) menandakan strategi akuisisi pengguna berbayar semakin dominan.
Durasi sesi secara global turun menjadi 9,89 menit, tetapi klik (CTR) tetap stabil di angka 2%. Jumlah rata-rata mitra distribusi per aplikasi meningkat dari 6 pada 2023 menjadi 7 pada H1 2025, bahkan di Indonesia naik signifikan dari 11,7 ke 15,6 mitra.
Tren Masa Depan: Voice, Chatbot, dan Quick Commerce
Lima tren utama yang akan membentuk masa depan aplikasi belanja: Quick Commerce: Pendapatan diprediksi mencapai $195 miliar pada akhir 2025. Voice Commerce: Naik daun berkat adopsi Gen Z dan milenial. AI Chatbots: Digunakan oleh 80% bisnis retail dan e-commerce di AS. Privacy-first Personalization: Strategi baru akibat deprecating cookie dan kebijakan ATT Apple. DTC Brands di Mobile: Merek langsung-ke-konsumen memperkuat kehadiran di mobile untuk akuisisi data dan loyalitas. Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan teknologi AI dan supervisi penulis konten