Jakarta, Gizmologi – Ricoh, mengumumkan pencapaian terbaru dengan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk lini pemindai gambar (image scanners) mereka. Langkah ini sekaligus mencerminkan komitmen Ricoh dalam mendukung regulasi lokal, memperkuat kemitraan dengan pemerintah, dan memperluas akses pelanggan terhadap teknologi pencitraan berkualitas.
Di Indonesia sendiri, Ricoh sudah lama beredar di kalangan korporasi, lembaga pemerintahan, dan industri manufaktur sebagai solusi untuk digitalisasi dokumen dan pengolahan data berbasis kertas. Namun, dengan adanya TKDN, Ricoh kini semakin kompetitif dalam tender proyek-proyek strategis nasional.
Meski begitu, masih ada pekerjaan rumah yang perlu disorot, terutama dari sisi penetrasi pasar ke sektor UMKM dan pemerataan distribusi produk di luar kota besar. Apakah sertifikasi TKDN bisa menjamin adopsi yang lebih luas di seluruh level industri, atau hanya sebatas keunggulan administratif dalam proyek-proyek pemerintah?
__ DBS Foundation Latih 60 Ribu Talenta Digital di Coding Camp 2025
Sertifikasi TKDN sebagai Strategi
Menurut PFU Asia Pacific, sertifikasi TKDN merupakan langkah penting yang memperlihatkan kepatuhan terhadap kebijakan kandungan lokal Indonesia. Dalam keterangan resminya, Mitsuo Kubota selaku Presiden dan CEO PAPL menyebutkan bahwa capaian ini menunjukkan keseriusan Ricoh dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui produksi dan suplai perangkat yang sesuai kebutuhan pasar lokal.
Adapun sertifikasi TKDN ini berlaku untuk 12 model pemindai, seperti Ricoh fi-7460, fi-7600, fi-7700, hingga lini populer ScanSnap iX2500 dan iX1300. Hal ini memberikan peluang lebih besar bagi Ricoh untuk mengikuti tender pemerintah, BUMN, dan proyek pendidikan yang mensyaratkan tingkat TKDN tertentu dalam pengadaan barang.
Namun, dari sisi pengawasan publik, masih diperlukan transparansi lebih lanjut tentang seberapa besar kandungan lokal yang tercakup, mengingat produk-produk imaging seringkali masih bergantung pada komponen atau perakitan luar negeri. Apakah kehadiran sertifikasi TKDN ini benar-benar merefleksikan proses produksi lokal atau sekadar pemenuhan administratif?
Fokus ke Efisiensi Digitalisasi di Dunia Bisnis
Ricoh juga menekankan bahwa lini produk pemindai mereka ditujukan untuk mempercepat transformasi digital di berbagai sektor bisnis. Mulai dari kelompok kerja kecil, departemen, hingga jaringan produksi skala besar. Produk-produk pemindai ini menjanjikan kecepatan baca dokumen, kualitas gambar yang tinggi, kemampuan menangani beragam jenis kertas, serta integrasi yang mulus dengan sistem manajemen dokumen.
PFU Asia Pacific menyatakan bahwa mereka ingin membangun kemitraan jangka panjang di Indonesia, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan pelanggan lokal. Solusi yang ditawarkan diklaim tidak hanya unggul dari sisi teknologi, tapi juga efisien dan mudah diimplementasikan di berbagai skala bisnis.
Namun demikian, ekosistem digital Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal infrastruktur, edukasi SDM, dan kesiapan integrasi sistem digital ke proses kerja manual. Tanpa adanya dukungan pelatihan dan layanan purnajual yang memadai, tidak semua pelaku bisnis – terutama di sektor tradisional – bisa langsung memaksimalkan potensi dari teknologi pemindai canggih ini.
Menjadi Strategi Jangka Panjang
Dengan menggabungkan kekuatan global sebagai pemimpin pasar dan pendekatan lokal melalui sertifikasi TKDN, Ricoh ingin menempatkan diri sebagai mitra transformasi digital di Indonesia. Fokus mereka bukan hanya pada perangkat keras, tapi juga pada solusi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan industri di Tanah Air.
Langkah ini dinilai positif, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan digitalisasi dokumen, efisiensi operasional, dan dorongan pemerintah dalam membangun ekosistem teknologi yang mandiri. Namun, agar dampaknya lebih terasa secara luas, Ricoh juga perlu membuktikan konsistensi mereka di luar klaim-klaim marketing.
Apakah kehadiran Ricoh di Indonesia akan sekadar menjadi bagian dari strategi global, atau benar-benar membuka jalan bagi inovasi lokal dan peningkatan kompetensi nasional di bidang imaging dan dokumen? Waktu dan transparansi akan menjadi faktor penentu.